Di jalan tol dalam kota ke arah Jakarta Selatan ada plang besar tertulis seperti ini:
“Idemitsu, Lubricant made in Japan.” Just that! (Tahun lalu tulisannya begitu, nampaknya tahun ini sedikit ditambah: “Idemitsu, the leading lubricant from Japan”). Maksudnya tulisannya hanya begitu. Tidak perlu lama berpikir untuk mengerti artinya, sebab Jepang sangat “punya nama.” Seluruh dunia tahu bahwa negara ini mempertahankan standar; dan itu tidak terjadi dalam ‘semalam,’ mereka sama-sama “membangun” standar sampai terjadinya kepercayaan dunia. Ini bicara soal dunia! Produk-produk Jepang sangat bisa diandalkan – beda dengan made in China, orang masih berpikir untuk beli, sebab banyak yang mudah rusak, bo’ong-bo’ongan, mainan, mudah pecah, mudah hancur, mudah luntur, mudah mengkeret, mudah berubah warna, dan sebagainya. Jika orang ‘berpikir’ sejenak untuk membeli produk Jepang, itu kebanyakan dikarenakan harganya memang mahal, jadi ada harga-ada barang.

Banyak orang yang berdagang awalnya bagus, tapi jika integritasnya buruk lama kelamaan kualitasnya dikurangi, rasanya berbeda, beratnya kurang, tulisannya asal-asalan, khotbahnya gak mantep, ngomongnya ngelantur, cara memimpinnya gak keruan, menyajikannya kurang serius, penampilannya buruk dan sembarangan. Ini tidak bisa dipercaya dan tidak dapat diandalkan. Orang tidak akan mempercayai bisnis dengan orang seperti ini, menjauhi tipe orang yang tidak konsisten. Sekali tercoreng, biasanya sulit untuk mendongkrak naik ulang. Itu sebabnya standar dan integritas harus dipertahankan. Kalau Jepang selalu dapat dipercaya, mereka menomorsatukan mutu; tapi ini khan bicara mengenai seluruh negara! Masyarakatnya dididik oleh pemimpinnya sedemikian rupa sehingga mereka teratur dan membentuk suatu sistem yang kuat yang dapat diandalkan.

Saya pernah membaca mengenai Jepang, katanya mereka tidak ada yang operasi plastik seperti Korea. Kalau di Korea, Thailand dan China, kita sudah tidak tahu mana yang beneran cewek mana yang beneran cowok. Mana yang wajahnya asli, mana yang sudah palsu. Tapi Jepang tidak memperbolehkan manusianya operasi permak wajah hanya demi kepentingan perubahan perombakan dari keaslian, mereka mempertahankan “mutu” kemanusiaan mereka. Bagi saya ini mengagumkan…berarti dokter-dokter kecantikan dilatih tunduk sumpah, masyarakatnya juga demikian. Jadi bukan karena dokternya disumpah untuk tidak mengoperasi lalu rakyatnya pada lari dan operasi di negara-negara tetangga! Itu sudah masuk kategori integritas bolong! Mereka hanya mempergunakan alat ‘kecanggihan’ saja, seperti lem mata, bulu mata, shaddow – permainan atau ‘trik’ make up, tapi untuk gunting kelopak mata, gunting tulang pipi, tambal payudara, silicone pantat, itu tidak dilakukan secara nasional.

All in all, kembali ke topik kita, apakah Saudara bisa dipercaya? Apakah Saudara reliable, bisa dicount-on baik dalam karakter, penyajian, kebaikan, keteraturan, kebersihan, ketepatan waktu, pekerjaan yang baik, sempurna, janji-janji, dan sebagainya?

Thailand mempunyai nama di bidang lain; dalam soal buah-buahan, mangga Thailand, jambu Bangkok, durian Bangkok, berbagai produk Bangkok sangat bisa dipercaya. Orang-orang di toko buah seperti Total atau All Fresh sudah pasti senang memilih mangga hijau keras, sebab mereka bisa pastikan bahwa isinya, rasanya, mutunya tidak berubah. Hijau, keras tapi manis segar. Harga? Agak mahal, tapi mutu terjamin. Kalau kita memilih mangga Indonesia, nama-namanya macam-macam, harga juga tidak teratur, nah, kita dapetnya untung-untungan, bisa asem sampai nyipitin mata kalau makan, bisa atasnya asem, bawahnya agak manis. Jadi ini membingungkan dan tidak bisa ditebak. Dengan beragamnya budaya dan ketidakstandaran nusantara, orang-orangnya juga sulit ditebak, hanya segelintir yang bisa dipercaya dan dipegang janjinya.

Misalnya di gereja, kalau sudah pendetanya datang terlambat, WLnya dan pemain musik juga mepet-mepet, pastilah satu gereja terlambatisasi. Ini pun juga bisa ditebak mutunya, sebab ketidakanuan seperti itu adalah suatu prinsip – jika seorang tidak bisa diharapkan di satu bidang, “biasanya” dalam hal lain juga sulit diharapkan mutunya, ketepatannya, kemampuannya, omongannya. Waduh, kalau sudah merembet sampai ke omongan yang gak bisa dipegang, ini sudah sangat celaka di atas berabe. Sebentar-bentar berubah, malam kedele pagi so jadi tempe. Orang semacam ini sulit diharapkan Tuhan untuk bisa dipakai untuk memenuhi visi. Sebab untuk mendongkrak sampai orang bisa kembali percaya itu tidak mudah dan sangat sulit. Jika orang sudah tidak mau percaya seseorang, biasa hanya segelintir saja yang masih memberinya kesempatan – ini dunia Saudara-saudara, penuh dengan manusia yang sudah tidak bisa diajak main-main. Bahkan orang yang tidak bisa diharapkan pun mengharapkan orang yang bisa diharapkan. Orang yang tidak mutu mengharapkan mutu. Orang yang tidak punya integritas tetap mengharapkan orang lain/partner bisnisnya berintegritas. This is life and reality.

Mempertahankan mutu dan integritas membutuhkan kegigihan, daya juang, keberanian, ketidakmunduran, ketidakpuasan untuk hidup biasa-biasa saja, keelitan, perjuangan ekstra, bayar harga, berani keluar uang, berani berjiwa besar, berani menyerahkan nyawa. Ini semua adalah prinsip-prinsip sampai ke puncak (if you will, walaupun itu bukan tujuannya), tetapi itulah prinsip meraih visi. Jika Anda tidak konsisten, maka akan sulit untuk menghadapi dunia, sulit untuk bisa diandalkan dunia, sulit untuk dipakai Tuhan di dunia, maksudnya. Semuanya berhubungan, baik hubungan utamanya adalah panggilan Tuhan atau visi, hubungan lainnya adalah pencapaian semacam yang orang sebut sebagai kesuksesan hidup. Orang yang “kebyar-kebyar,” “kedip-kedip” tidak akan laku di dunia – dunia menuntut excellence, jaminan, kepastian.

Itulah yang saya sebut dengan Character dalam seminar keelitan saya di DVD IAA (http://www.maqdalene.org/store/shop/). Jadi, jika orang membutuhkan sesuatu yang pasti, Saudaralah yang akan dicari! Jika dunia membutuhkan karakter elit, nama Saudaralah yang langsung jatuh di pikiran orang lain dan ditunjuk sebagai representative! Saya berharap agar nama Saudara melekat/identik dengan keelitan, kepastian, mutu, keekselenan. Jika negara membutuhkan seorang yang bisa dipercaya untuk diutus, Saudaralah yang pasti dicari. Jika Tuhan butuh someone untuk merealisasikan tugas berat dan mulia, biarlah Dia menemukan Saudara bisa diandalkan. Mulailah perjalanan reliability itu, lakukan hal-hal kecil untuk mencapai kebesaran. Charles Swindoll mengatakan bahwa: The difference between something good and something great is attention to detail. Dalam kemiliteran Navy Seals Amerika juga para trainer-trainernya selalu meneriakkan agar para calon tentara khusus itu memperhatikan hal kecil, mendengarkan perintah dengan detil. Itulah yang menolong/menjagai mereka untuk menang dan berhasil di medan perang. Seorang tidak akan bisa dipercaya hal besar sebelum ia terlatih mengerjakan hal-hal kecil dengan detil dalam ketelitian. Sampai ia benar-benar kuat di sana, terbangun sistem dengan ketat, ia bisa naik ke jenjang yang lebih tinggi untuk makin dipercaya.

Tuhan paling detil dengan kedetilan; waktu Dia memberi perintah kepada Musa untuk membangun Tabernakel, Dia tidak hanya menyuruhnya membangun. He went into the detail, jika Anda membaca perintah detilnya jam 10 malam, pastilah miring kanan-kiri terkantuk-kantuk. Daud menuliskan tentang Musa secara detil; Stefanus juga menceritakan tentang perjalanan Israel dan Musa secara detil. Tuhan dan Alkitab rupanya suka kedetilan. Bahkan mungkin para pembaca heran mengapa Musa bisa mencatat perjalanan sebegitu detil di Kitab Ulangan, maksudnya diulang lagi. Semua ada maksudnya. Firman Tuhan berkata jika engkau tidak bisa dipercaya dengan harta orang lain, Tuhan tidak akan mempercayakan harta kepadamu. Jika engkau diberi kepercayaan untuk mengendarai motor, tapi berbulan-bulan tidak pernah dicuci, Tuhan tidak akan mempercayakan mobil kepadamu. Jika engkau bekerja di tempat orang lain dan diam saja melihat kekotoran di sana, maka Tuhan tidak akan mempercayakan bisnis kepadamu. Jika engkau tidak bisa dipercaya memegang uang bos, maka Tuhan juga tidak akan memberikan uangmu kepadamu. Itu adalah prinsip dipercaya, yang kaitannya adalah dengan hal-hal detil. Apalagi jika engkau tidak bisa bertanggung jawab terhadap dirimu, bagaimana Tuhan mempercayakan orang-orang kepadamu? Jangan salahkan gereja lain yang jemaatnya lebih banyak sedangkan engkau iri terhadapnya (walaupun tidak pernah mau mengakuinya) dan malah mengatainya; sebab pastilah Tuhan melihat bahwa engkau belum bisa dipercaya dengan jiwa-jiwa yang banyak. Sebab engkau belum bisa mengatur dirimu, belum bisa mengatur hal detil yang Tuhan percayakan kepadamu sekalipun tidak ada yang melihatnya. Integritasmu dijaga/diperhatikan Tuhan.

Jepang bukan dipercaya dalam semalam, tetapi mereka bersama membangunnya dari kecil, dari waktu ke waktu bertahun-tahun, sampai dunia mengenal mereka. Biarlah kita sebagai anak-anak Kerajaan Saudara dan kita semua dikenal dari sikap kita, kata-kata kita, perbuatan kita, kepastian hasil pekerjaan kita, mood kita yang tidak naik-turun, emosi yang stabil, bisa diandalkan dimana-mana dan setiap saat. Ini kerinduan dan doa saya saat Saudara berjalan mempersiapkan visi yang besar – mulailah dari hal kecil, tekunlah, setialah, be realiable dalam semua pekerjaan yang dipercayakan kepadamu. Be a blessing to all, wherever you are. God be with you.

Mat_25:21  Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.