Berhasil Karena Iman

||Berhasil Karena Iman

Berhasil Karena Iman

Buku ini ditulis selama 1 tahun lebih. Dengan ketaatan, sekalipun Maq tidak memiliki uang, tidak pernah belajar cara menulis buku, tidak memiliki pemahaman mengenai penerbitan buku, dan tidak mendapatkan pemasukan selama penulisan buku. Kerjanya tiap hari hanya menulis, berdoa, olah raga, berbelanja, memasak, menulis lagi, ke gereja.

Setelah buku selesai, Maq masih belum menemukan judul yang tepat. Dimintainyalah beberapa pertimbangan dari orang, baik ayahnya sendiri Pak Kawotjo, maupun adiknya Dani dan Moses, lalu Herry Tjiang si photographer, dan Robby repi si editor. Maq sendiri mencorat-coret banyak judul, tetapi tidak ada yang tepat. Beberapa hari banyak sms masuk yang menyarankan judul buku. Ada yang berbau misteri, ada yang berbau sendu, ada yang terlalu abstrak, ada yang aneh-aneh. Maq tidak mau judul buku tersebut terkesan rohani, sebab dia ingin menjangkau orang-orang awam dari sepupu kita juga. Akhirnya ditemukan judul bagus: BERHASIL TANPA UANG.

Namun, waktu dipertimbangkan sekali lagi, adik Maq, Moses menanyakan fokus dari buku tersebut. Katanya jika judul buku tersebut mengacu pada uang, maka orang akan berpikir tentang uang. Maq disadarkan bahwa fokusnya memang IMAN. Mengutak-atik kata berhasil dan iman, muncullah gagasan BERHASIL KARENA IMAN (BKI). Akhirnya Maq puas dengan judul tersebut. Dan setelah selesai, saat dicocokkan dengan nubuatan Bob Griffin bahwa dia sedang melihat Maq menulis buku tentang IMAN, maka sempurnalah sudah judul tersebut. Baru setelah itu buku tersebut siap terbit, sebab judul baru ditemukan lama setelah penulisan selesai.

Waktu sudah selesai, BKI ditawarkan ke beberapa percetakan namun mendapatkan penolakan beberapa kali. Editor pertama adalah Mona Liem, kedua adalah Robby Repi, ketiga dari pihak Metanoia. Mereka adalah orang-orang berjasa yang membantu memperhalus kata-kata dalam BKI.

Maq berpikir bahwa dalam bukunya nanti, dia tidak akan mengikutsertakan fotonya satupun, sekalipun di halaman belakang, yang biasanya hanya foto kecil setengah badan disamping keterangan penulis buku. Tetapi Maq menemui pakar-pakar buku, penulis buku, pembaca buku, pengamat buku untuk mendiskusikan tentang bukunya. Mereka semua mengusulkan bahwa Maq harus menambahkan foto-foto peristiwa. Bahkan lebih extreme lagi diusulkan agar covernya adalah gambar Maq sendiri. Ada yang berkata bahwa wajah Maq sendiri adalah asset. Mengapa tidak? Benny Hinn, Billy Graham, Kenneth Hagin, Paul Cho Yonggi, Joyce Meyer juga menampilkan wajah mereka di depan sampul. Mereka bilang bahwa ada banyak buku bagus tetapi covernya tidak menarik, akhirnya tidak laku dan tidak diminati oleh pemburu buku. Ada yang covernya menarik, tetapi isinya kurang menunjang, juga tidak laku. Buku Maq tidak tahu apakah isinya bagus, tetapi taruhlah, covernya dibuat menarik dahulu, supaya eye catching. Tetapi Maq masih tetap berkeras untuk tidak memperlihatkan wajahnya, sebab dia malu dan tidak siap untuk dikenal. Ada yang jengkel sampai membentak Maq katanya, “Kamu mau buku kamu laku nggak sih?!!” Akhirnya, dengan doa dan pertimbangan, Maq setuju.

Pemotretan dilakukan berulang-ulang kali dari pagi sampai sore dengan camera digital oleh Herry Tjiang dan di studionya bersama dengan crewnya dan crew Maq. Dari beberapa foto hasil bidikannya (hampir 100), hanya ada 4 saja yang layak naik. Dari 2, dipilihnya satu untuk cover depan dan satunya untuk cover belakang. Ternyata setelah selesai dan bersantai untuk melihat hasil akhir di komputer, foto tersebut masih agak blur. Rambut Maq sudah diikat, bulu mata palsu sudah dilepas, baju sudah ganti, lampu-lampu foto sudah dikembalikan ke tempatnya, latar belakang layar sudah dilipat, Herry Tjiang menawarkan untuk membidik beberapa kali lagi supaya hasilnya lebih tajam. Saat itu hari sudah gelap, tetapi akhirnya kami mulai lagi dari awal.

Pihak percetakan sempat kurang setuju dengan cover yang diajukan, karena berbeda dengan cover-cover buku rohani lain. Tetapi Maq tetap pada pendiriannya untuk menggunakan cover dengan menampilkan wajahnya dan dirinya. Waktu proof film covernya sudah jadi, ternyata warnanya tidak sesuai dengan yang tertera di layar komputer. Akhirnya kami mengulangi membuat proof film kedua kalinya. Kali ini juga kelihatan seperti ada panunya di daerah sekitar leher. Jadi kami membuat untuk ketiga kalinya, dan warnaya pas. Tetapi di saat semua cover dicetak, warnanya ada lima jenis, dari coklat muda, coklat tua, kuning sari ayu, merah jambu, merah tomat. Maq complain, dan diterima oleh pihak percetakan. Pada hari yang ditentukan Maq dan Sri pergi ke gudang percetakan untuk memilih semua buku dengan cover-cover yang warnanya tidak sesuai dengan yang diinginkan sampai berkeringat.

Setelah BKI keluar di pasaran, Maq tidak berani jalan-jalan ke toko buku rohani, karena masih malu. Herry Tjiang mengadakan penelitian di TBK Gramedia, dan melaporkan kepada Maq bahwa BKI diselipkan di pojok dan tidak diperlihatkan covernya, sehingga tidak terlihat oleh pembeli. Herry minta agar Maq menemui manager Gramedia Kelapa Gading Mall supaya diijinkan untuk menempatkan BKI di permukaan, agar terlihat oleh pembeli. Namun Maq yang sudah mendoakannya dan yakin bahwa ini bukan pekerjaan manusia, dengan tenang menghibur Herry agar percaya kepada pekerjaan Tuhan. Tidak ada gunanya membantu Tuhan melakukan pekerjaannya. Maq sendiri sudah menyelesaikan penulisan buku, sekaranglah waktunya Tuhan yang memasarkan. Kerjasama yang baik, bukan?

Sehubungan dengan buku tersebut, sebelum BKI keluar, Maq dan Sri sudah berdoa selama setahun untuk cover, judul, keuangan, pemasaran, percetakan, pembeli, pembaca, toko-toko buku yang menjual. Doa mereka adalah agar pembeli tidak dapat keluar toko buku sebelum membeli BKI, agar mereka diberkati. Ternyata benar, dari kesaksian beberapa pembaca, mereka menyatakan bahwa sepertinya ada yang menyeret ke rak BKI dan harus membeli, sekalipun tidak ada tujuan untuk membeli buku. Dan mereka diberkati!

By | 2015-08-13T20:12:46+07:00 December 29th, 2010|Behind The Scene|0 Comments

Leave A Comment

fourteen + 9 =