Maria Magdalena: Teladan Iman & Doa

||Maria Magdalena: Teladan Iman & Doa

Maria Magdalena: Teladan Iman & Doa

Buku ini sudah mulai ditulis garis besarnya cukupan lama, tetapi sedikit terhambat karena jadwal khotbah Maq yang padat. Setelah peluncuran buku kedua, praktisnya hanya terpaut 7 bulan, – berarti tidak terlalu lama dibanding buku pertama ke buku kedua, atau pada saat mengeluarkan buku pertamanya.

Tuhan membukakan rahasia bagaimana sampai Yesus menampakkan Diri kepada Maria Magdalena di pagi Paskah 2000 tahun yang lalu. Tuhan menunjukkan kunci dari peristiwa sejarah terbesar ini kepada Maq sebagai penulis. Kunci dari pembukaan rahasia ini kepadanya adalah: “Karena saya menghidupi hidup Maria Magdalena” (~ Maqdalene)

Dalam beberapa kesempatan, Maq telah menyampaikan khotbah mengenai rahasia ini, dan beberapa tanggapan mengatakan bahwa mereka tidak pernah mendengar hal yang demikian di mana-mana. Tanggapan pendengar justru bagi Maq lebih memberi pujian syukur kepada Tuhan. Karena dengan disampaikannya rahasia mengenai penampakkan Yesus kepada Maria ini, (1) setiap orang yang mendengarnya jadi ingin lebih dekat kepada Yesus, (2) jadi ingin memiliki jam doa yang berkualitas.

Seperti yang lalu-lalu, waktu pertama-tama menulis buku sampai hampir akhir Maq merasa yakin sekali bahwa bukunya akan memberkati banyak jiwa. Tetapi, pada hari-hari terakhir sebelum naik cetak, Maq jadi ragu, “kok cuman gitu yah isinya….” Sampai Maq gentar dan menangis. Dia berdoa bersama sekretarisnya yang tahu pergumulannya malam itu, dan sehabis doa, Ruth yang ikutan nangis menguatkan, “Kakak sudah lama mengandung buku ini, memang kalau lagi bikin anak rasanya nikmat (tahu rupanya dia!), lalu tengah-tengah kehamilan berasa biasa-biasa aja, tapi kalau sudah dalam masa bersalin rasanya nggak enak, nangis, sakit, takut, dsb. Kakak ini sedang dalam ruang bersalin, anak ketiga Kakak hampir keluar, makanya Kakak merasakan hal yang serupa.” Maq merenungi kata-katanya, sepertinya masuk akal. Memang dalam hal ini Maq akhirnya harus mengandalkan Tuhan sepenuhnya, sebab jikalau hanya bertumpu kepada penulisan dan isi buku, semuanya tidak akan menjamin apa yang dia lakukan. Tetapi dengan menaruh percaya kepada Tuhan, yang berarti tidak mengandalkan kekuatannya sendiri dan tidak menganggap dirinya bijak, maka Tuhan akan meluruskan jalannya (Amsal 3:5-7).

Pada bulan November tahun lalu, tepatnya pada hari raya Idul Fitri, Maq memimpin tour ke Israel. Dony Surlaya, fotografer untuk cover buku kedua (Menikmati Kemustahilan) juga berangkat pada saat yang bersamaan, tetapi route kami berbeda. Dony dan rombongan mampir ke Paris, Roma, sedang Maq dan rombongan mampir ke Abu Dhabi (Negara di Emirates Arab), tetapi akhirnya mereka sama-sama tiba di Israel. Maq minta tolong Dony untuk membidik daerah-daerah yang penting untuk penulisan buku ini, yaitu daerah Magdala, Via Dolorosa, Yerusalem, Lembah Kidron, dsb. Untuk cover, Maq menyarankan untuk mengambil gambar dari Film Mary Magdalene yang Maq dapatkan dari Papa Koreanya. Tetapi Tim-nya takut jika itu adalah gambar aktris sekuler, selain itu juga jika kita minta ijin, prosedurnya terlalu lama. Jika asal pakai, kita bisa digugat. Akhirnya, jadilah kesepakatan agar Maq muncul di cover bukunya lagi dengan latar belakang lorong Yerusalem. Dalam hal ini Maq meminta untuk tidak terlalu nyata kelihatan wajahnya, karena judulnya adalah Maria Magdalena, bukan topik mengenai diri Maq seperti di buku-buku yang sudah-sudah. Tetapi, biar bagaimana pun juga, kisah Maria Magdalena berakhir dengan kisahnya Maq sendiri. Jadi untuk menampilkan fotonya lagi, tentunya tidak menjadi masalah yang harus dibesar-besarkan – karena ini sama sekali bukan merupakan suatu masalah, anyway! Kembali, hasil bidikan Dony Surlaya memperkuat tampilan buku kita kali ini. Thanks, Don!

Untuk mencari pose foto, Tim-nya Miss Maqdalene harus giat kesana-kemari menghabiskan waktu ke toko buku seperti Aksara di Jakarta Selatan, lalu ke Mall-mall tertentu hanya untuk mendapatkan bagaimana memakai kerudung yang benar. Dari buku sejarah India, sampai Pakistan, Bangladesh, Israel, berakhir dengan Busana Muslim.

Beberapa hari sebelum foto, salah satu murid Maq, yaitu Ibu Linda (anggota gereja Rehobot) menelepon, dan menanyakan buku ketiga apakah sudah jadi. Maq menjawab bahwa tinggal tunggu fotonya saja dan sedang cari kerudung. Ibu Linda yang mempunyai koleksi scarf dan selendang yang berjuta-juta (terlalu dibesar-besarkan, tapi memang banyak), langsung menawarkan untuk meminjamkan scarf pestanya. Jadilah semuanya siap menurut waktu dan penyediaan Tuhan.

Kali ini, nuansa cover sangat berbeda dan sangat sip. Kami menampilkan Mr. Simon, orang penting dalam pelayanan kami, yang berdedikasi dan memiliki skill tinggi di atas rata-rata. Kejeliannya dalam mengutak-atik wajah Maq dengan mengadukan posisi cahaya dan sudut ruangan, adalah kombinasi keahlian yang dimiliki “Bezaleel dan Aholiab” saat membangun Kemah Suci pada jaman Musa. Mr. Simon juga mempengaruhi setting buku dan foto-foto berwarna di dalam buku kita ini, sehingga membuat buku ketiga Maq kali ini kelihatan lebih cantik dan enak dibaca. Thanks karena Tuhan telah mengirim orang-orang yang seperti dia dalam mempercantik “dekorasi Kerajaan Tuhan” di bumi.

Kami sudah berkali-kali membersihkan isi buku ini, seperti buku-buku sebelumnya, Maq sendiri sudah hampir 20 kali (believe us!) mengedit tulisannya sendiri sebelum diserahkan kepada Mr. Simon untuk diteliti ulang (yang juga beberapa kali). Setelah diserahkan kepada percetakan, kami skim lagi dengan menyapu bersih dummy yang diserahkan kepada kami. Kami pikir kali ini tidak mungkin ada kesalahan yang mampu lolos dari pandangan kami. Tetapi, ternyata, waktu buku sudah jadi, baru membaca beberapa halaman saja kami sudah mendapati beberapa kesalahan! Akhirnya, kami harus berkata bahwa “kami manusia tidak sempurna”, sekalipun hal ini tidak dapat diajukan dalam segi profesionalisme. Tetapi, nyatanya, hanya Tuhan saja yang sempurna.

Jadi, guys, kami sudah menemukan beberapa kesalahan yang mungkin sudah anda catat juga saat membaca. Thanks karena Anda dapat memaafkan kami.

Untuk mencetak buku ketiga ini, Maq belum memiliki total biaya yang diperlukan untuk membayar. Tetapi Tim kami berjalan dengan iman, dan tetap mencetaknya sekali pun uang belum muncul. Jika Tuhan menyuruh memberkati jiwa-jiwa dengan buku ini, kami yakin juga bahwa Dia menyediakan semua yang kami perlukan.

Kami menanti tanggapan dari para pembaca di seluruh tanah Air dan lebih luas lagi, untuk memberkati jiwa-jiwa lain yang ingin dekat dengan Yesus.

By | 2018-09-17T12:27:38+07:00 December 29th, 2010|Behind The Scene|0 Comments

Leave A Comment

12 − 12 =