Insanity: (Ketidakwarasan)

||Insanity: (Ketidakwarasan)

Insanity: (Ketidakwarasan)

Buku ini bener-bener INSANE (gila) – coba aja liat sampulnya, kisah-kisahnya, keberaniannya, keedanannya dalam “bunuh diri” untuk suatu tugas. Tapi percayalah, sekalipun ini buku yang paling tidak waras saya yakin this one akan memberkati lebih banyak orang untuk taat kepada Tuhan. Karena fokus content adalah membawa orang percaya mati dan taat total sama Tuhan. Saya sungguh-sungguh nggak pernah mikir mau nulis buku macem ini kalau nggak didesak Roh Kudus (langsung baca aja isinya sebelum komentar); karena udah banyak tulisan-tulisan saya yang ngantri nunggu giliran keluar (beberapa udah di atas 65% tahap penyelesaian). Plan saya sebenarnya ngeluarin FMH-2 di tahun 2008, tapi ternyata Tuhan belum kehendaki, lalu tiba-tiba diselipin INSANITY ini. Ada kendala yang memang di luar jangkauan, yaitu uang belum ada. Para pengusaha pasti tahu namanya orang dagang, uangnya muter, masih berbentuk stok barang di gudang, atau di TBK atau toko buku umum kayak Gramedia, di distributor, dll. Jadi saya nunggu uang mujizat masuk di tahun 2008, tapi nggak masuk juga. “Iman donk… iman tanpa perbuatan khan mati!” Yah, tapi mencangkul ku tak mampu, mengemis aku malu, hanya Kau Tuhan tempat jawabanku.

Akhir tahun 2008 pada saat Tuhan memberi ide untuk menulis buku INSANITY, saya terus terang ama Tuhan, nggak ada duit, Bos. Tapi kayak sebelum-belumnya, saya taat, dan saya nulis dalam waktu 3 bulan selesai, lalu Tuhan ngirim uang segepok sekaligus bisa untuk nyetak 2 buku tahun ini (cihuy, eh praise God dink!). Insya Yesus FMH-2 bisa dikerjain juga setelah urusan lain yang tertunda diselesaikan oleh Kru Kingdom di office kami.

Mengenai FOTO, namanya juga insane (gila), udah lama banget saya gembar-gembor explaining arti kata INSANITY kepada para pendeta di berbagai pulau di Indonesia selama hampir 4 tahun. Baru saat ini kesampaian keliatan insane betul. Saya rupanya bakat nggak punya malu…(positive please), tapi sayangnya saya nggak bisa nahan ketawa. Jadi yang motret harus pinter cepet-cepet membidik, karena kalau udah pose blo’on, saya langsung terpingkal-pingkal lama sambil keluar airmata, dan kru pemotret ikutan ketawa malu. Mereka nggak nyangka Maq kok senekad itu!

Kostum, make up, semuanya property pribadi, seadanya aja. Kutek sengaja dibikin cecel-cecel; warna lipstik dan kutek memang dibuat nyala banget; antingnya pake benang merah aja; kacamata baca Maq juga yang udah lama nggak dipake, atau hanya dipake kalau naik pesawat ke luar negeri; jepit rambut dua yang gede-gede itu beli di pinggiran mall seharga 4000,-; sweater beli di Guang Zhou yang dipake di Gadaradewo. Ya udah, modalnya nggak mahal kok.

Kali ini saya agak kepepet, karena udah ada beberapa orang pesen minta jadi fotografer untuk buku Maq ‘berikutnya’; yang di luar kota pun siap datang, sedangkan nunggu jadwal longgar dan mood saya yang paling pas buat dipoto itu belum tentu bisa diserasikan dengan waktu mereka juga. Tapi Tuhan yang paling tau, kali ini saya beruntung Tuhan pilih Mr. Simon HS dan Johanes Lee untuk membidik, disertai kru lain yang menolong mengarahkan saya, walaupun kebanyakan ide gile itu muncrat dari kepala Maq sendiri yang memang dari sononya udah rada-rada kayak gitu…hehe. Ada beberapa foto lain yang wedhian tenans, tapi Team nggak sampe ati foto sejelek-jeleknya Maq gitu disodorkan kepada dunia, padahal saya girang banget waktu liat hasilnya sambil ketawa sendiri,…emang! Mereka bilang orang pasti nggak bakal nyangka kalau Doktor Maq modelnya bisa senekat itu. Mari kita tunggu komentar pembaca. Be blessed ya!

By | 2018-09-17T12:17:11+07:00 December 29th, 2010|Behind The Scene|0 Comments

Leave A Comment

17 − 16 =